Warning: mysqli_num_fields() expects parameter 1 to be mysqli_result, boolean given in /home/mybetcom/public_html/wp-includes/wp-db.php on line 3021
"Membeli Klub NBA Juga Butuh Hoki" - Agen Bola Terpercaya Mybet188, Judi Bola Online, SBOBET, CASINO, IBCBET
mybet188.comsitemap
mybet188.comsitemap
mybet188.comsitemap

“Membeli Klub NBA Juga Butuh Hoki”

<!– –>

VIVAnews – Usaha Erick Thohir membeli klub NBA, Philadelphia 76ers tak sia-sia. Dalam waktu setahun, dari tim di ambang kebangkrutan, kini Sixers telah balik modal.

Dengan bendera Indonesian Sport Venture (ISV), Erick Thohir membeli 15% kepemilikan saham klub Liga Bola Basket Amerika Serikat (NBA), Philadelphia 76ers. Ia menjadi orang Indonesia pertama yang memiliki klub NBA.

Kesempatan untuk membeli saham Sixers terbuka ketika klub ini dilanda krisis keuangan, tahun lalu. Sampai akhirnya, kepemilikan Sixers beralih dari Comcast-Spectacor pimpinan Ed Snider ke grup yang dipimpin Joshua Harris pada 13 Juli 2011, dimana ISV menjadi salah satu investornya bersama Adam Aron, David Blitzer, Jason Levien dan Art Wrubel. Akuisisi ini bernilai 280 juta dolar AS.

Pembelian Sixers terbilang “murah” alias dengan harga miring. Karena dua klub NBA berikutnya yang dijual, yakni Memphis Grizzlies dan New Orleans Hornets dilepas dengan harga di atas Sixers.

Grizzlies dijual 350 juta dolar AS kepada pengusaha muda Robert J Pera (34 tahun) pada 11 Juni 2012. Sedangkan Hornets jatuh ke tangan Tom Benson dengan tebusan 338 juta dolar AS pada 14 April 2012.

Dalam wawancara singkat dan padat dengan VIVAnews di kantornya, Wisma Bakrie, Erick mengungkapkan lika liku pembelian Sixers, dan apa yang dilakukan manajemen baru untuk membenahi klub ini. Juga target ke depan, baik dari sisi bisnis maupun prestasi Sixers.

Pria 42 tahun yang sangat mencintai basket dan juga menjadi pemilik klub basket Satria Muda dan Indonesia Warriors ini juga bicara tentang bola basket Indonesia, dibandingkan dengan NBA, sesuai dengan “ilmu” yang didapatnya dari membeli Sixers. Berikut petikan wawancaranya:

Anda membeli Sixers dengan harga terbilang murah. Apakah Anda tahu akan untung sebelum membeli Sixers?

Intinya, dalam bisnis harus percaya dengan hoki, garis tangan. Karena ada yang ngatur di atas itu, Allah. Waktu kita masuk ke Sixers, juga tepat sekali momennya. Kenapa tepat, karena NBA mau locked out. Para owner pun tak yakin, apalagi jika locked out sampai setahun. Kan klub-klub bisa kehilangan income cukup besar.
Yang kedua, rata-rata pemilik yang jual klub NBA berumur di atas 70 tahun. Sudah saatnya ganti generasi. Pemilik Memphis Grizzlies (Michael Heisley) sudah berumur 85 tahun. Ed Snider (pemilik Sixers) sudah 79 tahun.
Nanti semua klub olahraga di Amerika akan dijual, sebentar lagi. Dalam beberapa tahun ke depan. Bukan karena alasan ekonomi juga. Karena generasinya sudah tua, apalagi, kalo gak ada yang nerusin. Kalau saya bilang, momennya tepat sekali kita masuk, jadi harganya miring.

Mengapa yang dipilih Sixers?

Karena di NBA kan cuma ada 5-6 brand klub yang besar. Los Angeles Lakers, New York Knicks, Chicago Bulls, Boston Celtics dan Sixers. Hokinya lagi, Sixers masih punya fundamental pemain-pemain muda. Ada Jrue Holiday (22 tahun), Evan Turner (23 tahun), Andre Iguodala.

Apa yang dilakukan manajemen baru untuk membenahi klub?

Setelah kita masuk, salah satu CEO yang baru adalah Adam Evans. Kita hire dia untuk meningkatkan penjualan tiket dan berhasil. Sebelumnya, rata-rata penonton Sixers 14.000 per game. Itu salah satu yang kurang bagus di NBA. Dari 28 tim, Sixers nomor 23, rangking bawah.
Tapi, setelah kita ambil, jumlah penonton Sixers masuk 8 besar terbesar dengan rata-rata penjualan tiket 19.000 per game. Jadi, naik hampir 30 persen. Makanya, kondisi klub kini jadi bagus. Waktu kita beli, Sixers rugi hampir 15 juta dolar AS. Insya Allah tahun ini tutup buku dalam kondisi break even.

Rencana berikutnya apa?

Ke depannya, kita akan mengganti Presiden Rod Thorne. Karena sudah berumur, ia akan kita jadikan sebagai konsultan. Dan kita lagi mencari beberapa orang muda untuk manage tim.
Akhir bulan ini sampai Juli, yang sedang kita pikirkan yakni pergantian pemain. Itu menyangkut transfer, jual beli dan draft. Pada intinya, kita ingin mempertahankan tim yang ada. Tapi, juga kita tak menutup kemungkinan akan melepas pemain-pemain yang tak ingin memperpanjang kontrak. Di Sixers ada beberapa free agent yakni Louis Williams, Spencer Hawes, Jodie Meeks. Kita juga sedang memikirkan Elton Brand yang punya gaji 18 juta (dolar AS), tapi mainnya jarang, apakah kita akan lepas?

Sixers nanti akan dijadikan seperti apa?

Yang terdekat, kita ingin seperti OKC (Oklahoma City). Kita akan bangun tim muda.

Bagaimana dengan target prestasi Sixers?

Kita masuk berenam, dengan cita-cita ingin juara NBA. Tapi, apakah juara NBA secepatnya atau butuh 5 tahun, itu yang sulit. Di NBA banyak faktor, beda dengan bola basket di Indonesia.

Tentang Basket Indonesia

Apakah problem basket Indonesia?

Problem basket Indonesia ada tiga. Pertama, pemain berkualitas tidak banyak. Kalau di satu tim punya 6-7 pemain solid, itu sudah jaminan ke final four. Di NBA, punya 10 pemain solid belum tentu.
Yang ke-2, manajemen di NBA luar biasa, semuanya dipikirin. Kalau di Indonesia mohon maaf, masih banyak klub-klub memanage seperti “toko kelontong,” masih amatir. Tidak dibikin manajemen seperti perusahaan, murni hobi.
Yang ke-3, tidak ada sumber pendapatan yang jelas. Di NBA, ada uang tiket, uang merchandise, uang tv. Jadi klub-klub punya uang untuk reinvest. Invest pemain, fasilitas.

Apakah model seperti ini yang diterapkan di klub Satria Muda?

Ya, karena kami selalu berani spend uang untuk training dan rekrut pemain muda. Karena jika pemain muda di Amerika lulusan kuliah pasti bagus, sedangkan di Indonesia tidak. Di Indonesia, sejak umur 16 tahun harus jalani training, baru bagus. Terbukti, angkatan Amin (Prihantono), Faisal (Julius Ahmad) kini sudah bisa digantikan Dodo, Galang. Saat mereka belum habis, kini muncul Famiga, Arki.
Kunci manajemen sebenarnya adalah planning, membikin konsep dan menjalankannya dengan benar. Dulu, saya jadi manajer Satria Muda cuma 2 tahun (1998-1999). Saat manajer dan pelatih ganti-ganti, SM masih bisa terus juara. 
Kita juga dapat income, dapat sponsor dari Britama, kita jual merchandise. Jadi yang harus dipikirkan bukan cuma di dalam lapangan.

Tapi, jika SM terus mendominasi, apakah bukan membuat NBL menjadi kurang menarik?

Saya setuju, ketika SM juara terus liga akan menjadi tak menarik. Karena itu jadi pilihan, sebagai SM musti jadi yang terbaik. Seperti Sixers di NBA ingin juara.
Ini seperti pisau dua mata. Dan itu menjadi tantangan bagi tim-tim untuk bersaing dengan SM. Padahal, 3 tahun terakhir SM terus melepas bintang, bukan membeli pemain-pemain bintang.

Di Indonesia, selain SM klub-klub mana saja yang punya manajemen terbilang bagus?

CLS di bawah Christopher bagus. Juga Pelita Jaya di bawah Eda Bakrie bagus. Garuda di bawah Pak Andre bagus. Aspac secara pemain bagus, tapi secara manajemen terlalu ke Pak Kimhong. Saya khawatir dengan Aspac, karena seperti saya, saya takut dia akan bosan dengan basket karena sudah menggelutinya sejak lama.

Soal manajemen klub, apa beda di Amerika dan Indonesia?

Jika di Amerika, gonta ganti pemilik murni bisnis. Tapi di Indonesia, kalau tidak bosan, ya duitnya habis karena rugi. Basket masih kalah jauh potensinya dibandingkan sepakbola seperti dari tiket, sponsorship. Media pun akan berkontribusi ke klub-klub.

Bagaimana dengan Liga NBL Indonesia?
Sebagai liga, NBL sudah bagus, tapi masih perlu terus berinovasi.

Kalau liga mahasiswa?

Saya dan John Riyadi dari Lippo Grup sedang membangun liga mahasiswa secara menyeluruh, bukan hanya basket. Dan ini bukan untuk menyaingi NBL. Karena ini beda visi. Maret 2013, liga bulutangkis akan bergulir.
Kami juga ingin jadikan liga mahasiswa ini sebagai bisnis yang sehat. Di saat pertumbuhan ekonomi Indonesia yang luar biasa, kami juga ingin membantu pembentukan karakter bangsa. Jangan sampai di saat pertumbuhan ekonomi Indonesia pesat, yang kerja bule-bule semua.
Kami juga ingin menyiapkan edukasi dan disiplin kepada mereka semua. Karena mereka yang akan menjadi pemimpin di masa depan. Pemimpin yang bukan hanya punya edukasi, leadership dan disiplin, tapi juga fighting spirit.

Bagaimana dengan kompetisi ABL (Asean Basketball League)?

ABL kini dimanfaatkan bangsa-bangsa di Asia Tenggara untuk mendongkrak kualitas tim nasionalnya. Buktinya, tahun lalu juaranya dari Thailand (Chang Slammers). Indonesia kalah dari Thailand di semifinal SEA Games 2011. 

Peluang Indonesia Warriors di final ABL 2012?

Final ABL ini sangat menarik. Luar biasa jika Indonesia juara ABL kali ini. Luar biasa bagi basket Indonesia. Karena belum pernah ada juara ABL dari Indonesia.

<!– –>

SHARE KE TIMELINE FACEBOOK










‘;
wrap_all += ”+ wrap + ”;

}

$(loader_class).css(‘display’,’none’);

$(‘.drop_me’).remove();
$(drop_class).append(”);

self.cekButton(‘.drop_me’,’.wrap_slide’,lebar_slide+15,slide_count,’btn_left_fren’,’btn_right_fren’);

$(‘.btn_left_fren’).click(function(){

self.processPaging(‘.drop_me’,’.wrap_slide’,lebar_slide+15,’plus’,slide_count,’btn_left_fren’,’btn_right_fren’);
});
$(‘.btn_right_fren’).click(function(){

self.processPaging(‘.drop_me’,’.wrap_slide’,lebar_slide+15,’min’,slide_count,’btn_left_fren’,’btn_right_fren’);
});

});

}

}

fb_og.prototype.apiOpenActivity = function(){
var self = this;
var buffer_data;
$(‘.drop_kegiatan’).css(‘display’,’block’);
$(‘.loader_act’).css(‘display’,’block’);
$(‘.drop_me’).remove();
if(self.data.activity_per_person != false){
console.log(‘/me/’+self.data.objek+’.’ + self.data.action +’access_token=’+self.data.token);
FB.api(‘/me/’+self.data.objek+’.’ + self.data.action +’access_token=’+self.data.token+’limit=1500′,function(response){
var view = “”;
var bungkus = “”;
var wrap = “”;
var wrap_all = “”;
var lebar_slide = 400;
var slide_count = 0;
var btn_paging = 1;
var x = 0;
var count = 0;
if (!response || response.error) {
wrap += ‘— Koneksi Facebook.com sedang terganggu—‘;
} else {
buffer_data = response.data;
var jum_dat = response.data.length;

if(jum_dat 0) {

for( x in buffer_data){
if(x ‘;
view += ‘

  • ‘;
    view += ‘‘+title+”;
    view += ‘ ‘+ time+’
    ‘;
    view += ‘
  • ‘;
    view += ‘

‘;
count = ++x;
if(count % self.data.news_per_slide == 0){
bungkus += ‘

    ‘+view+’

‘;
view =””;
++slide_count;
}else if(jum_dat == count){
bungkus += ‘

    ‘+view+’

‘;
view =””;
++slide_count;
}

}

}
wrap += bungkus;

}else{
wrap += ‘ — tidak ada data artikel yang telah anda baca — ‘;
btn_paging = 0;
count = 0;
}

lebar_all = (slide_count * (lebar_slide+15)) ;
wrap_all += ”;
wrap_all += ‘

Aktivitas Terkini (‘+count+’)

‘;

if(btn_paging == 1 || count ‘;
wrap_all += ‘‘;
wrap_all += ‘‘;
}

wrap_all += ‘‘;
wrap_all += ”+ wrap + ”;

}

$(‘.loader_act’).css(‘display’,’none’);

$(‘.drop_kegiatan’).append(”);

self.cekButton(‘.drop_me’,’.wrap_slide’,lebar_slide+15,slide_count,’btn_left’,’.btn_right’);

$(‘.btn_left’).click(function(){

self.processPaging(‘.drop_me’,’.wrap_slide’,lebar_slide+15,’plus’,slide_count,’.btn_left’,’.btn_right’);
});
$(‘.btn_right’).click(function(){

self.processPaging(‘.drop_me’,’.wrap_slide’,lebar_slide+15,’min’,slide_count,’.btn_left’,’.btn_right’);
});

$(‘.delete_act’).click(function(){
var a = $(this).attr(‘id’);
var b = FB._authResponse.accessToken;
$(this).css(‘background’,’none’);
$(this).after(‘Dihapus‘);
$(this).css(‘display’,’none’);

FB.api(‘/’+a+’?access_token=’+b,’DELETE’,function(response) {
if (!response || response.error) {
console.log(‘gagal delete’);
}
});

});
});

}

}
fb_og.prototype.cekButton = function(bungkus,slide,lebar_per_slide,slide_count,left_btn,right_btn){
var posisi = parseInt($(slide).css(‘left’));
var slide = – parseInt(lebar_per_slide);
var max = – parseInt(slide_count * lebar_per_slide);
if(posisi slide max !== slide){
$(right_btn).css(“background”,”url(http://us.vivanews.com/appaux/images/soc-btn.gif?2)-25px -205px no-repeat”);
$(left_btn).css(“background”,”url(http://us.vivanews.com/appaux/images/soc-btn.gif?2)0px -166px no-repeat”);
}else if(posisi slide max == slide){
$(right_btn).css(“background”,”url(http://us.vivanews.com/appaux/images/soc-btn.gif?2)-25px -166px no-repeat”);
$(left_btn).css(“background”,”url(http://us.vivanews.com/appaux/images/soc-btn.gif?2)0px -166px no-repeat”);
}else if(posisi (max – slide)){
$(right_btn).css(“background”,”url(http://us.vivanews.com/appaux/images/soc-btn.gif?2)-25px -205px no-repeat”);
$(left_btn).css(“background”,”url(http://us.vivanews.com/appaux/images/soc-btn.gif?2)0px -205px no-repeat”);
}else if(posisi 0 || skrg = 60 sisa = 3600 sisa = 86400 sisa ‘).insertBefore(‘.aktifitas_fb_me’);
$(‘.thumb_me’).css(‘background’,’url(https://graph.facebook.com/’+ usr +’/picture)’);
$(‘

‘+name+’

‘).insertBefore(‘.aktifitas_fb_me’);
$(‘Facebook Anda aktif ‘).insertBefore(‘.aktifitas_fb_me’);

$(‘.fb_act_btn’).click(function() {
if(self.data.status_drop || self.data.status_drop == ‘ready’){
self.data.status_drop = 0;
self.apiOpenActivity();
}else{
self.data.status_drop = 1;
$(‘.drop_me’).remove();
$(‘.drop_kegiatan’).css(‘display’,’none’);

}
});
$(‘.my_fb’).mouseleave(function(){
$(‘.drop_me’).empty();
$(‘.drop_kegiatan’).css(‘display’,’none’);
self.data.status_drop = 1;
});

$(‘.sos_aktif’).click(function(){
self.deleteCookie(“fb_social”);
$(‘.sos_nonaktif’).css(‘display’,’block’);
$(‘.sos_aktif’).css(‘display’,’none’);

});

$(‘.sos_nonaktif’).click(function(){
self.setCookie(“fb_social”);
$(‘.sos_nonaktif’).css(‘display’,’none’);
$(‘.sos_aktif’).css(‘display’,’block’);
self.apiPostAction( self.data.objek, self.data.action, self.data.article, self.data.page );

});

})

}

fb_og.prototype.showLoader = function(status){
if (status)
$(‘.loader’).css(‘display’,’block’);
else
$(‘.loader’).css(‘display’,’none’);
}

//////////////////////////////////////////re use//////////////////////////////////////////////////////////

fb_og.prototype.checkCookie = function(og){
var i,x,y,ARRcookies=document.cookie.split(“;”);
for (i=0;i

Anda harus Login untuk mengirimkan komentar


Facebook Connect


);
$.ajax({
type: “POST”,
url: “/comment/load/”,
data: “valIndex=” + a + “articleId=” + b + “defaultValue=” + c,
success: function(msg){
$(“#loadkomen”).html(msg);
//$(“.balasan”).hide();
}
})
}







There are varied medicines for varied cases. A lot of drugs are used to treat symptoms of Parkinson’s disease, such as tremors. The drug is used together with other drugs to treat symptoms of Parkinson’s disease. Though erectile dysfunction is more common among older men, that doesn’t make it ‘normal’. Below are few steps about “online cialis“. Apparently every adult has heard about “cialis online“. The most substantial point you have to look for is “how to buy cialis safely“. Note to diagnose a man’s sexual problem, the health care vocational likely will begin with a thorough story of symptoms. Such problem is best drastic with vocational help, preferably through counseling with a qualified pharmacist. Your dispenser can help find the treatment that is better for you and your partner. Preparatory to purchasing the drug, tell your physician if you are allergic to anything.

Social Widgets powered by AB-WebLog.com.