Warning: mysqli_num_fields() expects parameter 1 to be mysqli_result, boolean given in /home/mybetcom/public_html/wp-includes/wp-db.php on line 3021
Antiteori Kepalsuan Nomor 9 yang Meragukan - Agen Bola Terpercaya Mybet188, Judi Bola Online, SBOBET, CASINO, IBCBET

Antiteori Kepalsuan Nomor 9 yang Meragukan

MENGEJUTKAN, aneh, sulit dimengerti. Begitu komentar banyak pihak ketika Spanyol menurunkan skuadnya untuk menghadapi Italia pada laga pertama Grup C, Minggu (10/6/2012).

Betapa tidak. Pelatih Vicente Del Bosque melakukan antiteori yang memang aneh, yakni tak memakai striker. Taktik seperti ini biasanya dilakukan tim yang memang sedang kekurangan striker karena cedera atau hukuman. Namun, sang juara bertahan itu sebenarnya memiliki Fernando Torres dan Fernando Llorente yang dalam kondisi bugar.

Ia malah menurunkan enam gelandang dalam formasi 4-3-3 semu. Posisi striker pun ditempati Cesc Fabregas yang notabene berposisi sebagai gelandang bertahan. Strategi itulah yang kemudian disebut menempatkan pemain nomor 9 palsu. Sebab, nomor 9 yang sebenarnya (Torres) justru dicadangkan. Di lapangan, Fabregas didampingi Andres Iniesta dan David Silva.

“Saya memilih mendominasi lini tengah, menguasai bola dan berusaha dari sana. Dalam banyak kesempatan, Silva, Cesc, dan Iniesta bermain bagus di antara dua lini. Italia tak hanya bertahan dan itu kami ketahui sejak awal. Saya tahu bahwa Italia akan menekan dan ingin segera unggul,” kata Vicente Del Bosque memberi alasan.

Hasilnya, Spanyol memang menguasai permainan. Menurut catatan UEFA, Spanyol memiliki 57 persen penguasaan bola.

Namun, efektivitas permainan Spanyol tak terlalu kentara. Memang, Spanyol melakukan 18 kali percobaan mencetak gol, tapi hanya 9 yang tepat sasaran. Sedangkan Italia melakukan 10 kali percobaan dan enam di antaranya tepat sasaran. Meski begitu, toh hasil akhir pertandingan tetap 1-1.

Peluang kedua tim untuk menang sebenarnya bisa dikatakan sama. Bahkan, mungkin peluang menang buat Italia lebih besar karena unggul lebih dulu.

Dengan menguasai lini tengah, Del Bosque memang berharap kesempatan mengarah ke gawang akan lebih banyak sehingga kemungkinan mencetak gol lebih besar. Di sisi lain, mereka juga bisa meladeni permainan defensif Italia yang biasanya sangat disiplin.

Faktanya, taktik Del Bosque itu tak berjalan dengan memuaskan, bahkan sangat rawan. Terbukti, Italia bisa beberapa kali merepotkan dan tekanan Spanyol pun tak terlalu tajam.

Tanpa striker, irama permainan jelas terpengaruh. Bagaimanapun, karakter pemain sulit diubah dengan cepat. Naluri gelandang memang lebih banyak “berpikir” dan mengolah daripada menjadi penyelesai meski akhirnya Fabregas mencetak gol penyama kedudukan.

Bedanya sangat terasa saat striker Fernando Torres diturunkan pada menit ke-74. Dengan cepat, permainan Spanyol lebih tajam dan banyak melahirkan peluang bagus.

Namun, Del Bosque punya apologi. Menurutnya, “Masuknya Torres memang membuat permainan terbuka dan kami mendapat banyak peluang, tetapi lawan juga demikian.”

Kritikan lain yang muncul, Del Bosque terkesan ingin membawa timnya bermain seperti Barcelona. Mendominasi dalam penguasaan bola, bergerak cepat, dan mengakhiri serangan dengan kreatif.

Namun, Del Bosque tampaknya lupa, ia tak memiliki Lionel Messi. Pemain Argentina menjadi faktor penting dalam permainan Barcelona yang menawan dan tajam. Dia tak hanya pandai mengatur permainan, merusak pertahanan lawan, tetapi juga penyelesai yang tajam. Sementara di timnas Spanyol tak ada pemain seperti dia meski sebagian pemain Barcelona.

Ditambah lagi, gaya permainan Barcelona sudah mulai mudah dikenali dan dicari kelemahannya. Musim ini, Barcelona tidak seampuh musim sebelumnya. Mereka gagal di dua kompetisi utama, Liga BBVA dan Liga Champions. Bahkan, melawan Chelsea yang sedang bermasalah saja di babak semifinal Liga Champions, Barca tak berdaya. Lagi pula, sebelumnya juga banyak yang sudah menduga bahwa Spanyol akan bermain ala Barcelona.

Mungkin, Del Bosque akan membuat kejutan yang harapannya membuat Italia bingung kemudian kesulitan. Namun, ternyata justru sebaliknya. Strategi Spanyol kurang berjalan seperti harapan dan bahkan nyaris kalah.

Wajar banyak kritikan muncul, termasuk dari Pelatih Real Madrid Jose Mourinho. Pelatih asal Portugal itu mengatakan, “Tidak baik menahan umpan di antara Xavi, Iniesta, dan Fabregas dengan tidak menciptakan ancaman berbahaya ke gawang Buffon. Memang ada usaha besar dari gelandang Spanyol, tetapi tanpa striker, tim itu justru akan kesulitan mencetak gol.”

Del Bosque mengakui kekurangan dan kesalahan strateginya? Ternyata tidak. Dia malah menilai strateginya sudah berjalan dengan baik dan bisa saja berguna di pertandingan-pertandingan berikutnya meski dia tak menyebutkan akan mempertahankan taktiknya itu. “Biarlah waktu yang akan membuktikan,” katanya.

Akankah Del Bosque kembali melakukan kepalsuan nomor 9 yang ternyata masih meragukan? Hanya dia yang tahu dan punya hak untuk memutuskannya. Namun, begitu strateginya kurang manjur dan dianggap aneh, rasanya tak bijaksana mempertahankan proyek coba-coba ini, apalagi di turnamen yang ketat dan singkat dan setiap pertandingan bisa sangat menentukan.

Social Widgets powered by AB-WebLog.com.